Tindakan impor juga dilakukan untuk gula dan daging sapi serta kerbau sebagai penggantinya. Alasannya adalah untuk persiapan lebaran tahun ini, untuk mengatasi persediaan pangan yang menipis. Setiap tahun solusinya selalu impor, kebijakan yang diambil secara instan berlandaskan ekonomi liberal. Impor dianggap sebagai solusi yang cepat dan mudah. Seolah-olah tidak ada solusi lain yang lebih baik.
Sebutan “Negeri Gemah Ripah Loh Jinawi” yang sejak dulu melekat pada negara ini tampaknya tak relevan lagi. Mengingat betapa seringnya Indonesia mengimpor bahan pangan beberapa tahun terakhir. Prestasi Indonesia berbalik 180 derajat dari yang pernah menjadi produsen padi terbesar dunia di urutan ketiga pada tahun 2005-2014, menjadi negara pengimpor beras.













