Saya tutup mata sejenak. Saya membayangkan jalan-jalan di Beirut Selatan yang dulu saya lalui saat patroli. Saya membayangkan wajah-wajah anak kecil yang dulu saya temui di kamp-kamp pengungsian. Lalu saya membayangkan mereka tertimpa reruntuhan.
*Sejak perang melebar ke Lebanon pada 2 Maret 2026, sedikitnya 130 anak telah kehilangan nyawa.* Seratus tiga puluh. Bukan angka. Mereka adalah manusia kecil yang punya mimpi. Mereka ingin menjadi guru, dokter, tentara, atau mungkin seperti saya dulu ingin membawa perdamaian.
*Tapi mereka tidak sempat tumbuh.*
Saya bertanya pada diri sendiri: *Apakah pantas disebut gencatan senjata jika bom terus berjatuhan di satu negara sementara berhenti di negara lain?* Bukankah gencatan senjata seharusnya berarti semua senjata berhenti, untuk semua pihak, di semua tempat?













