Konflik Gaza hari ini tidak lagi semata bicara soal operasi militer. Pertanyaan yang paling menentukan justru hadir setelah perang.
Siapa yang memimpin Gaza? Siapa yang menjamin keamanan warga sipil? Siapa yang mengelola distribusi bantuan? Siapa yang memiliki legitimasi politik di mata rakyat Palestina? Dan siapa yang mampu memastikan Gaza tidak kembali masuk ke dalam siklus kekerasan?
Sampai hari ini belum ada jawaban yang benar-benar tegas, dan di situlah inti persoalan strategis Gaza berada.
Dalam konflik modern, kemenangan taktis tidak otomatis berubah menjadi kemenangan strategis. Wilayah bisa dikuasai dan operasi militer bisa berhasil, tetapi ketika ruang politik tetap kosong, legitimasi belum terbentuk, dan masyarakat sipil masih hidup dalam trauma serta ketidakpastian, konflik pada hakikatnya belum benar-benar selesai.













