Ketiga: Pererat Hubungan dengan Al-Qur’an; Ramadhan adalah bulan Al-Qur’an. Namun jangan menunggu Ramadhan untuk membuka Al-Qur’an dan mulai membaca. Alih-alih membaca Al-Qur’an secara cepat demi mengkhatamkannya sesegera mungkin, ada baiknya kita membaca Al-Qur’an dengan tartil, mengedepankan kualitas bacaan daripada kuantitas. Artinya, membaca selama 10 menit dengan kesungguhan dan niat yang jelas untuk memahami, lebih baik daripada membaca selama 30 menit tanpa mempedulikan tanda baca dan makna yang dibaca.
Al-Qur’an jauh lebih dari sekadar kata-kata; ini adalah wahyu ilahi dari Pencipta yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW melalui Malaikat Jibril. Ini benar-benar firman Allah tanpa suntingan atau perubahan apa pun. Bukankah itu luar biasa dan sesuatu yang seharusnya membuat kita ingin lebih memahami Al-Qur’an? “Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur’an, ataukah hati [mereka] terkunci.” (QS. Muhammad [47]:24).











