“Ketika distribusi energi terganggu, dampaknya langsung dirasakan masyarakat luas—mulai dari kenaikan harga pangan, biaya hidup, hingga potensi krisis sosial,” katanya.
Dalam konteks Indonesia, Pontoh mengingatkan bahwa, ketergantungan terhadap impor energi menjadikan gejolak di Selat Hormuz berdampak langsung terhadap ekonomi nasional.
“Kita akan menghadapi tekanan pada APBN, subsidi BBM, inflasi, hingga nilai tukar rupiah. Ini bukan isu yang jauh, tetapi sangat konkret bagi Indonesia,” ujarnya.
Karena itu, ia menekankan pentingnya langkah strategis untuk memperkuat ketahanan energi nasional, termasuk melalui diversifikasi sumber energi dan pembangunan cadangan strategis.
“Tidak cukup hanya mengandalkan hukum internasional. Kita harus realistis dengan memperkuat ketahanan energi dalam negeri agar tidak rentan terhadap gejolak global,” tegasnya.













