Lalu, ingatlah ada satu juta lebih WNI yang bekerja di Arab Saudi, UEA, dan Qatar. Kiriman uang mereka adalah nafas bagi jutaan keluarga di kampung-kampung di Jawa, NTB, dan Sumatera. Jika perang meletus, arus perdamaian yang membawa kiriman itu akan terhenti. Bukan karena PHK biasa, tetapi karena ladang minyak terbakar, proyek konstruksi berhenti total, dan ribuan WNI harus dievakuasi.
Inilah yang saya maksud dengan “ancaman nyata bagi arus perdamaian”. Arus perdamaian bukanlah konsep abstrak di gedung-gedung PBB yang ber-AC. Ia adalah aliran minyak, barang, uang, dan manusia yang menjaga dunia tetap berputar. Jika arus itu tersumbat, maka yang tenggelam bukan hanya Iran atau AS, tetapi juga negara-negara kecil seperti Indonesia.













