*Penutup*
Saya akan mengakhiri opini ini dengan sebuah pengakuan jujur. Pengalaman saya di PBB tahun 2017-2019 mengajarkan satu hal yang tidak pernah saya lupakan: perdamaian tidak pernah terjadi secara otomatis. Ia harus diperjuangkan dengan gigih, kadang dengan mengorbankan popularitas.
Saya bertanya kepada para pemimpin bangsa kita, kepada para diplomat kita yang duduk di New York dan Jenewa: apakah kita hanya akan menjadi penonton yang sopan dan beradab sementara dunia terbakar di depan mata kita? Apakah kita masih memiliki keberanian untuk menyebut kegilaan sebagai kegilaan, kebohongan sebagai kebohongan, dan bahaya sebagai bahaya?
Indonesia memiliki posisi yang terhormat di mata dunia. Kita tidak punya utang sejarah yang membebani. Kita tidak sedang berseteru dengan siapa pun. Maka, kita harus bersuara. Desak DK PBB untuk bertindak. Desak pencabutan blokade. Desak penarikan rudal hipersonik. Desak mekanisme pengawasan gencatan senjata yang netral.













