Demi keseimbangan, saya tidak bisa membiarkan pembaca berasumsi bahwa Iran hanyalah korban tak berdaya. Sebagai seorang perwira, saya menghormati kecerdikan taktis Garda Revolusi Iran. Mereka membaca situasi dengan sangat baik.
Dalam masa gencatan senjata yang katanya untuk menciptakan ruang diplomatik, Iran justru melakukan apa yang dalam bahasa militer disebut resupply dengan kecepatan maksimal. Peluncur rudal mobile berpindah tempat setiap beberapa jam. Drone baru diluncurkan dari fasilitas bawah tanah yang tidak terjangkau bom konvensional. Sistem pertahanan udara di sekitar fasilitas nuklir Fordow diperkuat.
Inilah ironi klasik dari gencatan senjata tanpa mekanisme verifikasi yang kredibel. Kedua belah pihak tidak menurunkan tensi, tetapi berlomba mengisi magasin kosong. Dan dalam perlombaan seperti ini, yang terjadi bukanlah perdamaian, melainkan hanya penundaan ledakan. Saya pernah menyaksikan pola serupa di Suriah: gencatan senjata untuk mengatur napas, lalu menyerang lagi dengan lebih keras.













