Padahal jika devisa hasil ekspor itu masuk ke kas negara. Niscaya negara tidak perlu bayar hutang dengan hutang baru dan puluhan ribu triliun itu jika masuk ke negara niscaya dolar pun akan segera turun.
Hal ini penting untuk memantau lalu lintas devisa dari para ekportir selama ini. Sehingga negara dapat mengontrol dengan tepat jika dana hasil ekspor dalam bentuk dolar tidak masuk ke kas negara.
Selain itu pergerakan dolar yang semakin menguat dan melemahkan posisi rupiah semata karena fakto ekonomi atau faktor lain?
Mengapa di saat Soeharto memimpin. Pertumbuhan ekonomi tinggi dan rupiah kuat sampai pada kurs Rp 2800 per dolar dan kemudian terjun bebas ke angka Rp 17.000 per dolar. Apakah itu semata karena tekanan ekonomi atau ada tekanan politik dengan dolar sebagai senjata?













