Jakarta – bedanews.com – Direktur Eksekutif Pusat Studi Uyghur (Center for Uyghur Studies – CUS), Abdulhakim Idris mengingatkan kembali pentingnya perhatian dunia internasional terhadap nasib etnis minoritas Muslim Uyghur di wilayah Otonom Xinjiang China yang mengalami penindasan selama 70 tahun.
“Selain melakukan penindasan, Pemerintah Tiongkok menghilangkan statistik di Xinjiang pada akhir 2019, sehingga menyulitkan pemantauan dunia terhadap eksistensi Muslim Uyghur di wilayah itu,” katanya dalam jumpa pers di Jakarta, Selasa (19/12/2023).
Selain menampilkan narasumber utama Direktur Eksekutif CUS, Abdulhakim Idris, konferensi pers itu juga menghadirkan Presiden Organisasi Kerja Sama Pemuda Islam (OIC Youth) Indonesia, Astrid Nadya Rizqita, dan Dosen Sekolah Tinggi Agama Islam Persatuan Islam (STAI PERSIS) yang juga Peneliti Muslim Uyghur, Imam Sopyan.












