1. Risiko miskomunikasi sangat tinggi. Ketika pesan disebarkan melalui saluran berbeda, ada risiko distorsi. Jika Pakistan menyampaikan pesan yang berbeda dengan Oman, maka AS bisa salah membaca intensi Iran. Dan dalam kondisi perang yang rapuh, satu miskomunikasi bisa memicu eskalasi militer.
3. Ketergantungan pada aktor ketiga. Iran kini bergantung pada Pakistan, Oman, dan Rusia untuk menyampaikan pesannya. Ini berarti Teheran kehilangan kontrol penuh atas narasinya sendiri. Jika salah satu aktor ini berubah posisi, seluruh strategi bisa kolaps.
*Pelajaran untuk Indonesia dan ASEAN*
Sebagai negara dengan populasi Muslim, Indonesia memiliki kepentingan langsung dalam konflik ini.
Selat Hormuz adalah urat nadi ekonomi Asia. 30% impor minyak Indonesia dan 40% impor gandum kita melewati jalur tersebut. Jika selat ini tertutup lebih dari 90 hari, maka inflasi kita bisa tembus 6-7% dan pertumbuhan ekonomi bisa turun di bawah 4%.













