Seorang jenderal yang matang tidak menjadikan jabatan sebagai sesuatu yang harus dikejar dengan segala cara. Ia tidak menggantungkan kehormatannya pada fasilitas, kedudukan, penghargaan, atau pengakuan.
Sebab semakin tinggi seseorang menggantungkan harga dirinya pada jabatan, semakin rapuh pula kebebasannya.
Sebaliknya, orang yang mampu mengatakan “aku tidak meminta” memiliki ruang yang lebih luas untuk berkata benar.
Ia tidak mudah dibeli oleh kepentingan.
Ia tidak mudah ditundukkan oleh fasilitas.
Ia tidak mudah mengubah prinsip menjadi transaksi.
Inilah bentuk kekayaan yang sesungguhnya: merasa cukup sehingga kehormatan tidak perlu ditukar dengan kepentingan.
Jenderal negarawan memahami bahwa jabatan pada hakikatnya adalah amanah yang memiliki awal dan akhir. Ketika amanah itu diberikan, ia menjalankannya sebaik mungkin. Ketika amanah itu berakhir, ia menyerahkannya tanpa merasa kehilangan harga diri.













