Oleh : Prof.Dr.Hj.Lilis Sulastri.,S.Ag.,MM.,CPHRM.,CHRA.
Guru Besar Ilmu Manajemen FEBI UIN Sunan Gunung Djati Bandung
Ketua Umum Masyarakat Ekonomi Syariah ( MES) Kota Bandung

Dari Lapak Sederhana ke Harapan Keluarga
Setiap sore menjelang magrib, jalan-jalan kecil di berbagai kota di Indonesia berubah wajah. Trotoar, halaman masjid, pinggir pasar, hingga sudut perumahan mendadak ramai oleh lapak-lapak sederhana. Meja kayu, terpal plastik, spanduk seadanya, dan etalase kecil menjadi saksi geliat ekonomi rakyat. Di sanalah para penjual takjil dengan berbagai profesi seperti ibu rumah tangga, buruh lepas, pensiunan, mahasiswa, hingga korban PHK menggantungkan harapan hidup selama Ramadhan.
Sebut saja Ibu Siti, warga pinggiran Bandung, yang setiap ramadhan menjajakan kolak pisang, es campur, dan gorengan di depan rumahnya. Modal awal hanya dua ratus ribu rupiah. Namun dalam sehari, ia bisa memperoleh omzet lima ratus hingga tujuh ratus ribu rupiah. “Kalau Ramadhan, rezeki seperti dilapangkan,” tuturnya suatu sore. Penghasilan tersebut bukan untuk gaya hidup, melainkan membayar sekolah anak, cicilan motor, dan kebutuhan dapur. Tidak ada kemewahan. Yang ada hanyalah perjuangan menjaga keberlangsungan keluarga.











