BANDUNG. BEDAnews.com – Integrasi, adaptasi, sampai digitalisasi bisa jadi cara agar produk budaya kita tetap hidup, dikenal, dan dinikmati lintas generasi.
Hal ini dikatakan Katua DPRD Provinsi Jawa Barat Dr. Buky Wibawa Karya Guna saat memimpin rombongan panitya khusus XII DPRD Jawa Barat yang tengah membahas Ranperda Pemajuan Kebudayaan ke Iabauapaten Sumedang. ( 8/1)
Ditemui di Bandung, Ketua DPRD yang bearasal dari budayawan ini menyebut mana yang harus dipilih, Budaya baru vs budaya lama ?.
“Apakah kita akan menghilangkan budaya lama, menerima budaya baru. Apakah kita akan mempertahankan budya lama menerima budaya baru, atau tidak dua-duanya.” Ungkapnya.
Artinya tawarannya mungkin mempertahankan budaya lama menerima budaya baru atau istilahnya integrasi.
Kalau kita mempertahanakan budaya lama menolak budaya baru yang sangat kuat, pasti terjadi separasi.
“Nah makanya harus ada intervensi dari orang orang kekinian yang mengerti betul, mengemas ini menjadi diterima di digital market, gitu kan !
Layak muncul di youtube gitu kan !” Harapnya.
Jadi saya kira kombinasi-kombinasi seperti ini, kolaborasi bahkan titik temu adu manis.
Antara budaya lama dan budaya baru memang menjadi solusi. Supaya bukan hanya budayanya saja yang ikut survive tetapi pengampunya juga ikut sejahtera.
Ketika teknologi semakin maju, budaya perlu ruang dan cara baru untuk tetap hidup.
Dalam kegiatan Pansus XII di Sumedang, saya menyampaikan satu pendekatan, yakni modifikasi.
Bukan soal meninggalkan budaya lama atau menerima begitu saja budaya baru, tapi bagaimana keduanya bisa saling bertemu dalam ruang yang tepat, dan dengan cara yang tepat.
Integrasi, adaptasi, sampai digitalisasi bisa jadi cara agar produk budaya kita tetap hidup, dikenal, dan dinikmati lintas generasi.
Karena merawat budaya bukan hanya tentang menjaga, tapi juga memahami zaman. Bukan begitu?
“Budaya adalah napas panjang dari sebuah peradaban.
Dan setiap generasi punya tanggung jawab menjaganya tetap hidup.” Pungkasnya.@herz











