Masalahnya, status agraris bukanlah jaminan ketahanan pangan.
Sejarah memberikan pelajaran yang keras. Mesir pernah dikenal sebagai lumbung gandum kawasan Timur Tengah. Namun ketika harga pangan dunia melonjak pada 1977, gelombang demonstrasi besar terjadi akibat kenaikan harga kebutuhan pokok. Produksi domestik yang besar ternyata tidak cukup ketika sistem distribusi dan cadangan pangan tidak mampu menahan guncangan.
Pelajaran serupa juga terlihat pada Jerman dalam Perang Dunia I. Kekalahan mereka tidak hanya ditentukan oleh medan tempur, tetapi juga oleh blokade laut yang memutus pasokan logistik dan bahan pangan. Kelaparan perlahan menggerus daya tahan nasional jauh sebelum perang benar-benar berakhir.
Karena itu, kebanggaan sebagai negara agraris tidak boleh membuat kita terlena.













