Oleh: Fulad
JAKARTA || Bedanews.com –
*Pendahuluan*
Sejarah menunjukkan bahwa negara jarang runtuh karena ancaman yang tampak jelas di depan mata. Banyak bangsa justru tergelincir oleh persoalan yang dianggap remeh, dibiarkan menumpuk, lalu meledak menjadi krisis yang tak terkendali. Perang memang dapat menghancurkan kota. Krisis keuangan dapat mengguncang pasar. Namun kelangkaan pangan memiliki daya rusak yang jauh lebih mendasar karena menyentuh kebutuhan paling elementer manusia.
Di tengah optimisme pemerintah mengenai swasembada pangan yang kembali digaungkan dari Gorontalo, ada baiknya kita menengok pelajaran dari panggung dunia. Ketika Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara terbuka mengakui bahwa cadangan strategis negaranya hanya cukup sekitar empat pekan dalam menghadapi gangguan pasokan energi, dunia kembali diingatkan pada satu prinsip lama: kekuatan sebuah negara tidak diukur dari kerasnya pidato atau canggihnya persenjataan, melainkan dari kemampuan bertahan ketika rantai pasokan terganggu.













