Dua peristiwa tersebut bertemu pada satu benang merah: negara kuat adalah negara yang memiliki cadangan, bukan negara yang paling keras pidatonya.
Trump tersandung bukan karena rudal musuh, melainkan karena kekhawatiran terhadap terganggunya pasokan energi. Indonesia bisa menghadapi ancaman yang lebih sederhana sekaligus lebih berbahaya: karung beras yang kosong. Bukan karena hama. Bukan pula karena kemarau semata. Melainkan karena fondasi logistik pangan yang belum cukup kuat.
Iran cukup mengancam Selat Hormuz, harga minyak dunia langsung melonjak. Indonesia pun tidak jauh berbeda. Gangguan pada jalur perdagangan internasional atau tersendatnya impor komoditas strategis dapat segera menimbulkan tekanan pada pasar domestik.













