“Koperasi itu demokratis, bukan kapitalistik. Keuntungan bukan tujuan akhir, tapi alat untuk meningkatkan kesejahteraan anggota,” jelasnya.
Namun realitas di lapangan menunjukkan bahwa, koperasi di Indonesia belum sepenuhnya berkembang optimal. Berbagai persoalan klasik masih menjadi penghambat, mulai dari lemahnya manajemen, keterbatasan modal, hingga rendahnya pemahaman anggota terhadap prinsip koperasi.
“Banyak koperasi gagal bukan karena konsepnya salah, tapi karena pengelolaannya tidak sesuai dengan prinsip koperasi itu sendiri,” ungkap Budi.
Ia menambahkan, kurangnya pendidikan dan pelatihan menjadi faktor utama yang membuat koperasi sulit bersaing dengan sistem usaha lain.
Di sisi lain, citra koperasi di mata masyarakat juga masih beragam. Ada yang melihatnya sebagai solusi ekonomi rakyat, namun tidak sedikit yang menganggap koperasi tidak profesional, bahkan rawan penyalahgunaan.












