“Terlepas siapa dan apa yang memicunya, kemarahan masyarakat itu menunjukkan bahwa munculnya kesadaran eksistensial dari kaum adat saat ini makin kuat dan mengental,” kata penulis novel “Baiat Cinta di Tanah Baduy” itu.
Selama ini, menurut dia eksistensi kaum adat dan kearifan lokal Nusantara kurang mendapatkan perhatian, bahkan sebagian besar elit negeri ini cenderung mengabaikannya, seolah-olah nilai-nilai adat dan kearifan lokal bangsa tidak ada atau dianggap sudah mati.
Uten juga mengemukakan, sikap arogan politisi Arteria Dahlan yang dianggap menghina orang Sunda dan perilaku aktivis medsos, Edy Mulyadi yang dianggap menghina orang Kalimantan hanya gambaran kecil dari sekian banyak sikap para elit negeri ini yang kurang menghargai adab dan adat serta kearifan bangsa sendiri.













