MV Sinar Kudus dibajak kelompok perompak Somalia saat melintasi Laut Arab, salah satu jalur pelayaran internasional tersibuk yang menghubungkan Asia, Timur Tengah, dan Eropa. Pembajakan tersebut segera menjadi perhatian pemerintah Indonesia karena menyangkut keselamatan awak kapal, keamanan perdagangan nasional dan citra Indonesia sebagai negara maritim.
Pardosi menjelaskan, ancaman yang dihadapi Indonesia saat itu berbeda dengan ancaman militer konvensional. Musuh yang dihadapi bukan negara lain, melainkan kelompok non-negara yang memanfaatkan luasnya wilayah laut, lemahnya pengawasan kawasan pesisir Somalia, serta kompleksitas hukum internasional.
“Karakter ancaman seperti ini tidak dapat dihadapi hanya dengan pendekatan militer tradisional. Diperlukan perpaduan antara instrumen militer, diplomasi, intelijen, hukum internasional dan komunikasi strategis agar tujuan operasi dapat tercapai,” katanya.













