“Operasi MV Sinar Kudus menunjukkan bahwa, Indonesia memiliki kemampuan untuk melaksanakan proyeksi kekuatan maritim jauh di luar kawasan strategis terdekatnya. Ini bukan sekadar operasi penyelamatan sandera, tetapi juga cerminan kemampuan negara hadir dan melindungi kepentingan nasional di ruang maritim internasional,” kata Brigjen Marinir Pardosi, Kamis (25/6).
Menurutnya, selama ini kajian tentang operasi ekspedisi angkatan laut lebih banyak menyoroti negara-negara besar yang memiliki armada global seperti Amerika Serikat, Inggris, maupun negara-negara NATO. Sementara Indonesia relatif jarang dikaji dalam konteks operasi militer jarak jauh yang melibatkan kepentingan strategis di luar kawasan.
“Padahal Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia yang memiliki kepentingan langsung terhadap keamanan jalur perdagangan internasional. Karena itu, pengalaman pembebasan MV Sinar Kudus sangat relevan untuk dipelajari dalam perspektif strategi maritim modern,” ujarnya.













