Bandung, BEDAnews
Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) mengungkapkan sasaran teror sudah bergeser kepada anggota polisi, karena polisi dianggap orang yang paling jahat dan simbol negara. Polisi juga dianggap dekat dengan kafir terbesar yakni Amerika dan Australia.
“Paling jahat artinya ketika para teroris bikin bom ditangkap, saat merampok bank atau toko emas, polisi juga yang menangkap,” kata Ketua BNPT Ansyad Mbai kepada wartawan saat kegiatan diskusi bertema “Damailah Indonesiaku Bersama Cegah Terorisme Membangun Kebersamaan Dengan Media” di Bobber Cafe di Jalan Sumatera, Selasa (20/8/2013).
Sejak 3 tahun belakangan, polisi kerap menjadi target karena tugasnya sebagai penegak hukum dianggap telah menghalangi upaya pelaku kriminal termasuk teroris. Polisi juga dianggap orang yang langsung berkolaborasi dengan kafir terbesar, yakni Amerika dan Australia.
Menurut Ansyad, siapa pun yang bertentangan dengan ideologi yang diyakini teroris, dianggap kafir. "Bagi mereka yang tidak seideologi itu, darahnya halal untuk dibunuh,” ungkap Ansyad lagi.
Penembakan pada polisi sebagai simbol Negara, menurut Ansyad, menyiratkan jika serangan ditujukan pada seluruh elemen di negeri ini. "Polisi itu simbol negara yang terdekat dengan masyarakat. Karena penyerangan pada polisi itu bukan hanya berarti urusan dengan polisi, tapi dengan semua," ujar Ansyad.
Ansyad mengakui jika Polisi memang banyak kekurangan. Namun kekurangan itu bukan semata-mata dari pribadi polisi, akan tetapi dibentuk juga dengan kultur yang ada di masyarakat. “Tugas kita sebagai masyarakat, memberi support dan ikut berperan aktif dalam menciptakan suasana yang kondusif," pungkas Ansyad. (Lanie)











