Proyek Intermediate Treatment Facility (ITF) di Sunter, yang semestinya menjadi solusi alternatif, justru mangkrak meskipun telah menghabiskan dana publik dan dari BUMD yang cukup besar. Sementara itu, proyek Refuse Derived Fuel (RDF) di Rorotan yang menelan anggaran sekitar Rp1,3 triliun juga belum beroperasi karena masih dalam tahap perbaikan teknis. Saat uji coba, RDF bahkan memicu protes warga akibat bau menyengat yang ditimbulkannya.
Hal ini jelas mencerminkan lemahnya perencanaan serta minimnya pelibatan masyarakat dalam pengembangan proyek tersebut.
Harapan agar fasilitas RDF mampu mengolah sekitar 2.500 ton sampah per hari hingga kini belum terealisasi. Lebih ironis lagi, RDF Rorotan gagal diresmikan sesuai dengan Instruksi Gubernur DKI Jakarta Nomor e-0001 Tahun 2025 tentang Program 100 Hari Gubernur. Agenda peresmian yang direncanakan pada minggu ke-9 (21–27 April 2025) tidak terealisasi, karena proyek tersebut harus dihentikan sementara untuk evaluasi.
Kegagalan ini jelas mencoreng wajah Gubernur DKI dan menunjukkan bahwa pejabat terkait tidak mampu menjalankan amanah publik.













