Oleh Muhammad Rofik Mualimin (Kolumnis/Dosen STAI Yogyakarta/Pengasuh Pontren Latifah Mubarokiyah/Penasihat Paguyuban Demak Bintoro Nusantara (PDBN))
YOGYAKARTA || Bedanews.com – Di tengah derasnya arus globalisasi dan digitalisasi, muncul tantangan baru: masyarakat semakin individualis, kemewahan materi mengalahkan kesederhanaan spiritual, dan ruang publik—termasuk politik—seringkali kehilangan nuansa nilai budaya. Dalam kondisi seperti inilah kita butuh kembali meneguhkan nilai-nilai Maulid Nabi: semangat spiritualitas, kepedulian sosial, dan cinta tanah air, sebagai obat anti-kedaluwarsa di era post‑modernisme.
Perayaan Maulid Nabi SAW—yang melahirkan rasa syukur dan cinta kepada Rasulullah—membawa ajakan kembali pada kesadaran spiritual. Dalam buku Spiritualitas Nabi dalam Kehidupan Modern oleh Dr. Aisyah Hamid (2018: 45-46), disebutkan bahwa ritual Maulid membantu memelihara kesadaran akan peran teladan Nabi dalam menguatkan moral dan etika dalam kehidupan sehari-hari. Nilai ini sangat relevan saat post‑modernisme sering menempatkan relativisme moral sebagai norma baru.













