Imam al-Nawawi (t.t.: 132) dalam Kitab turats al‑Adhkar menyebutkan, syair‑syair perayaan Maulid sebagai medium mempererat tali ukhuwah: rasa cinta terhadap Nabi menjadi jangkar persaudaraan dalam masyarakat. Dengan demikian, tradisi repetisi syair-syair maulid bisa mencegah hilangnya solidaritas di tengah modernitas yang cenderung individualistik.
Sebagai bukti empiris, riset lapangan jurnal Maulid dan Solidaritas Sosial di Masyarakat Urban oleh Lestari (2022: 78–82) ditemukan, ruang-ruang maulid sering menjadi arena gotong-royong antarkomunitas.
Ahmad Faisal (2021: 121-125), dalam disertasinya Maulid dan Spirit Nasionalisme dalam Masyarakat Ma’arif di Sumatera, menunjukkan bahwa pelaksanaan Maulid dengan memasukkan syair-syair nasionalis memperkuat identitas kebangsaan: saat doa dan syair maulid dibacakan dalam bahasa daerah dan nasional, maka selain mengenang Nabi, kita juga mengenang akar budaya dan kebangsaan. Praktik ini menembus sekat fragmentasi sosial dalam bingkai post‑modern.













