Studi di Bekasi dan Bandung memberi gambaran lebih rinci dari sisi persepsi dan praktik. Di Bekasi, kebanyakan masyarakat menganggap air yang mereka konsumsi aman dan enak, namun pengujian kualitas (pH, TDS, koliform, E. coli) menunjukkan bahwa persepsi tersebut tidak selalu mencerminkan kondisi air sesungguhnya.
Sementara di Bandung, penelitian terhadap 66 depot air isi ulang menemukan korelasi negatif antara perilaku penyedia dan kualitas fisik air (TDS); artinya, praktik tidak higienis berdampak nyata terhadap mutu air
(Journals.itb.ac.id).
Di Jabodetabek, penelitian mengungkap bahwa sekitar 93,92 % rumah tangga memiliki akses terhadap air minum layak secara fisik, tetapi masih ada sekitar 6,08 % yang tertinggal. Faktor-faktor seperti pendidikan kepala rumah tangga, status pekerjaan, jumlah anggota keluarga dan status migrasi terbukti signifikan memengaruhi akses tersebut
(jurnal.um-tapsel.ac.id).













