Respons pemerintah pun datang cepat: permintaan maaf publik dari Kapolda Metro Jaya, tujuh anggota Brimob ditahan, bahkan Presiden Prabowo turun cepat dan menjanjikan investigasi transparan
(The Washington Post &
theaustralian.com.au).
Namun ketegangan tak padam. Demonstrasi menyebar serentak hingga ke kota-kota seperti Makassar, Bandung, Surabaya, Solo, Yogyakarta, dan lebih luas lagi (Reuters &
AP News).
Saat aksi di Makassar, kerusuhan memuncak hingga kantor DPRD dibakar. Tiga orang dilaporkan tewas—mereka adalah pegawai publik yang terjebak dalam kobaran api (merdeka.com).
Mengapa demonstrasi ini begitu massif dan emosional? Setidaknya ada empat jawaban.
Pertama, Affan menjadi simbol roda ekonomi rakyat kecil yang tergerus ketidakadilan struktural: aspirasi rendahnya upah, kenaikan pajak, kutipan tunjangan fantastis untuk wakil rakyat—semuanya membakar rasa duka yang telah terpendam lama.













