Dan kedua, menguatnya kepercayaan publik sebagai modal utama. Banyak penulis opini—seperti di Antara dan Suara.com—menggarisbawahi perlunya empati nasional dan pemulihan kepercayaan melalui langkah konkrit, bukan sekadar kata maaf.
Akhir kalam, Affan Kurniawan bukan hanya nama, tetapi simbol. Simbol di mana suara rakyat—yang terlalu lama dipinggirkan—akhirnya meledak karena kesedihan dan keadilan yang tak kunjung tiba. Ya, demo ini memiliki risiko anarkis, tetapi itu lebih merupakan alarm: kalau tak ada yang berubah, tragedi seperti ini bisa terulang. Semoga nama Affan menjadi catatan kelam yang memicu lilin reformasi—bukan tewas sia-sia. ***













