Oleh: M.R. Mualimin
YOGYAKARTA || Bedanews.com – Sore itu di sudut Kulonprogo, Mbah Sumi duduk menatap sawahnya yang pecah-pecah menyerupai retakan piring tua. Sumur di belakang rumahnya yang biasanya melimpah kini hanya menyisa pasir basah. Senyumnya muram, pasrah menyadari bahwa tak ada bulir padi yang bisa dipanen musim ini. Pemandangan pilu ini bukan sekadar cerita fiktif, melainkan potret nyata ribuan petani kita di lapangan yang menjerit akibat hantaman El Niño.
Phenomena El Niño kali ini terasa jauh lebih menyengat. Gelombang panas dan kekeringan panjang bukan lagi sekadar isu cuaca di televisi, melainkan ancaman nyata di depan mata. Sumatera, Jawa, hingga Nusa Tenggara mengalami krisis air bersih yang parah. Cadangan waduk menyusut drastis, membakar harapan para petani, dan perlahan menggerogoti isi dompet masyarakat perkotaan lewat melonjaknya harga beras serta bahan pokok.













