Secara ilmiah, kekeringan ini bukan cuma takdir alam yang datang tiba-tiba. Ada benang merah antara pemanasan global dan anomali suhu permukaan laut Pasifik. Kita kerap lupa bahwa krisis ekologis ini dipacu oleh tangan manusia sendiri. Sebagaimana dijelaskan secara lugas oleh Emil Salim dalam bukunya Ratusan Bangsawan Lingkungan yang diterbitkan oleh Penerbit Kompas di Jakarta pada tahun 2010 halaman 45, pembangunan yang mengabaikan daya dukung lingkungan hanya akan melahirkan bencana ekologis yang berkepanjangan bagi rakyat kecil. Ketika hutan lindung dibabat dan daerah resapan air disulap menjadi beton, alam kehilangan kemampuannya untuk menahan napas saat kemarau tiba.
Lantas, apa yang bisa kita lakukan agar tak terus-menerus menjadi korban pasrah?













