Oleh: M.R. Mualimin
YOGYAKARTA || Bedanews.com – Aroma minyak angin dan asap rokok kretek membumbung tipis di pelataran Kantor PCNU Bantul, Kamis malam, 22 Oktober 2026. Malam itu, ratusan warga Nahdliyin menyemut, melantunkan bait-bait istighosah dengan khusyuk. Namun, di balik riuhnya lantunan doa yang mengetuk pintu langit, ada realitas wuwungan gedung yang pengap dan terlampau sempit untuk menampung gelombang jemaah.
Sebagai jemaah yang datang dengan niat tulus mencari ketenangan batin, saya merasakan sendiri bagaimana ruang gerak begitu terbatas. Usai doa bersama ditutup, dahaga dan lelah mulai menyapa. Saya memberanikan diri mendekati meja panitia, mencoba meminta sekadar satu kardus snack yang bertumpuk. Jawaban yang didapat justru penolakan halus namun tegas dari panitia. Alasannya klasik: jumlah makanan terbatas dan hanya diperuntukkan bagi tamu undangan tertentu.
Peristiwa kecil di sudut kantor NU yang bersahaja ini menjadi cermin besar tentang tata kelola acara keagamaan kita. Terlihat jelas betapa timpangnya rasio jumlah personel panitia bidang pelayanan dengan jumlah jemaah yang membludak. Panitia yang kelelahan dan kelabakan akhirnya gagap membangun komunikasi yang humanis.
Dalam kacamata sosiologi organisasi, kerapian acara berbasis massa memerlukan perencanaan kapasitas yang matang. Dalam bukunya Manajemen Organisasi Bermutu (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2012, hlm. 74), Hadari Nawawi menegaskan bahwa efektivitas pelayanan publik dan komunal sangat ditentukan oleh ketepatan alokasi sumber daya manusia serta analisis kebutuhan lapangan. Ketika panitia lini depan (frontline staff) tidak sebanding dengan arus jemaah, benturan komunikasi dan rasa ketidakpuasan tak terhindarkan.
Masalah ini kian memprihatinkan jika ditarik ke dalam konsep manajemen acara publik. Joe Goldblatt dalam bukunya Special Events: Leadership, Development, and Integrity (Hoboken: John Wiley & Sons, 2014, hlm. 102) menjelaskan bahwa aspek guest experience atau pengalaman pengunjung, termasuk pemenuhan kebutuhan logistik dasar seperti konsumsi dan kenyamanan ruang, merupakan pilar utama keberhasilan sebuah agenda. Mengabaikan estimasi partisipan bukan hanya memicu kekecewaan, melainkan mengurangi kekhusyukan momentum spritual yang dibangun.
Kegiatan istighosah tentu bernilai mulia. Namun, keagungan doa hendaknya diimbangi dengan pelayanan keumatan yang hangat dan merata. Kantor yang sempit bisa jadi keterbatasan fisik yang dimaklumi, tetapi pelayanan yang kurang sigap adalah pekerjaan rumah organisasi yang harus segera dibenahi demi menjaga martabat tradisi Nahdliyin di masa depan.***
Penulis adalah:
– Alumni Universitas Al-Azhar Kairo Mesir,
– Kandidat Doktor di Pascasarjana S3 UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.













