• DISCLAIMER
  • PEDOMAN MEDIA CYBER
  • TENTANG KAMI
  • REDAKSI
  • Contact Us
Sabtu, Oktober 17, 2026
  • Login
Bedanews
Advertisement
  • TNI-POLRI
  • Headline
  • Ragam
  • News
  • Politik
  • Edukasi
  • Hukum
  • Ekonomi
  • Karya
  • Profil
No Result
View All Result
  • TNI-POLRI
  • Headline
  • Ragam
  • News
  • Politik
  • Edukasi
  • Hukum
  • Ekonomi
  • Karya
  • Profil
No Result
View All Result
Bedanews
No Result
View All Result

Home » Saat Laut Memakan Dapur Kami

Saat Laut Memakan Dapur Kami

Asep Budi by Asep Budi
15 Oktober 2026
in Hukum, Ragam
0
0
SHARES
1
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

 

Oleh: Muhammad Rofik Mualimin

YOGYAKARTA || Bedanews.com – Pagi di Sayung, Demak, tak pernah lagi diawali dengan harum sangrai kopi atau aroma embun di atas daun padi. Di sini, pagi menyapa lewat gemericik air asin yang creeping perlahan masuk melintasi ambang pintu rumah, menggenangi lantai semen yang retak, lalu mengapungkan sandal jepit.

Lebih dari dua dekade, pesisir Demak bertarung melawan monster bernama rob. Ini bukan sekadar genangan air biasa yang menumpang lewat saat hujan deras. Ini adalah laut yang pelan-pelan merayap dan menetap. Lebih dari 2.000 hektar sawah produktif dan tambak ikan yang dulunya menjadi gumpalan emas hijau warga kini berubah total menjadi bentangan air laut mati. Petani yang dulu memanen beras kini terpaksa memanen kepiting liar, atau lebih buruk lagi: gulung tikar dan merantau menjadi buruh berupah minim.

BeritaTerkait

KI DKI Jakarta Adopsi AI untuk Tranformasi E Monev, KI DIY Beberkan Praktik Terbaiknya

16 Oktober 2026

Suket, Sutar, dan Nasib Baju Kebesaran Alumni Luar Negeri

16 Oktober 2026

Mengapa fenomena ini bisa terjadi begitu ganas? Kalau kita bongkar secara akademis tanpa istilah yang membingungkan, penyebab utamanya adalah perkawinan silang antara land subsidence (penurunan tanah) dan kenaikan permukaan air laut. Tanah pesisir Demak yang tersusun dari endapan aluvial muda mengalami penyusutan alami, diperparah oleh penyedotan air tanah besar-besaran untuk industri di kawasan sekitar Semarang-Demak.

Kondisi Demak hari ini bagaikan gambaran kehancuran lingkungan yang ditulis oleh Suprihatin dalam bukunya Geografi Pesisir dan Perubahan Iklim (Bandung: ITB Press, 2018, hlm. 87), di mana hilangnya ruang hidup lokal kerap terjadi akibat kegagalan antisipasi ekologis. Para ahli geologi maritim di Tiongkok juga mencatat fenomena serupa; Zhang Wei dalam karya monumental Coastal Protection and Land Subsidence Management (Beijing: China Ocean Press, 2015, hlm. 112) menegaskan bahwa daerah delta aluvial yang dibiarkan tanpa kendali ekstraksi air tanah pasti akan tenggelam dalam jangka waktu kurang dari tiga dekade.

Pemerintah sering kali melontarkan janji manis berupa tanggul laut raksasa (giant sea wall). Namun, menanti proyek mega-infrastruktur itu selesai bagaikan menunggu hujan di tengah gurun—terlalu lama untuk perut warga yang lapar hari ini. Kita butuh solusi konkret, praktis, dan berjangka pendek yang bisa langsung dieksekusi di tingkat akar rumput!

Pertama, rekayasa ekologi berbasis vegetasi mangrove. Jangan hanya menanam bibit mangrove sembarangan yang berujung mati tersapu ombak. Kita butuh penerapan sistem permeable dams atau tanggul berpori dari bambu dan ranting, persis seperti teknologi restorasi pesisir yang ditulis oleh Ahmad Al-Ghamdi dalam bukunya al-Himayah al-Bi’iyyah li al-Maniq al-Sahiliyyah (Riyadh: Dar al-Fikr, 2020, hlm. 45). Tanggul bambu ini menahan lumpur sehingga endapan tanah baru terbentuk dan mangrove dapat tumbuh secara alami.

Kedua, penghentian total dan tegas terhadap ekstraksi air tanah dalam di sepanjang koridor industri Semarang-Demak. Belanda telah membuktikan keberhasilan cara ini dalam menata kawasan pesisir paska-banjir besar. Hendrik van der Meer dalam Water Management and Coastal Defense in Netherlands (Amsterdam: Elsevier, 2012, hlm. 134) mencatat bahwa penghentian penyedotan air tanah secara efektif berhasil menekan laju penurunan tanah hingga 80 persen dalam kurun waktu lima tahun.

Ketiga, konversi ekonomi adaptif berbasis budidaya silvofishery (tambak terintegrasi mangrove). Petani tidak boleh dibiarkan meratap di atas tanah tenggelam; mereka harus dibekali benih ikan milkfish dan udang yang tahan salinitas tinggi.

Pesisir Demak adalah cermin dari masa depan pesisir Jawa. Jika hari ini kita membiarkan warga Sayung berenang di dalam dapur mereka sendiri, esok lusa giliran rumah kita yang akan disapa oleh ombak. Solusi praktis sudah di depan mata, kini hanya butuh kehendak politik yang nyata, bukan sekadar janji saat kampanye.***

Penulis adalah:
– Alumni Universitas Al-Azhar Kairo Mesir,
– Kandidat Doktor di Pascasarjana S3 UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Previous Post

Kurang dari 24 Jam, Resmob Polres Demak Tangkap 3 Tersangka Pengeroyokan Maut Usai Minum Miras

Next Post

FWK Kritik Penanganan Karhutla Kurang Serius: Kalsel Merasa jadi Anak Tiri, Masyarakat Mulai Frustasi

Related Posts

Ragam

KI DKI Jakarta Adopsi AI untuk Tranformasi E Monev, KI DIY Beberkan Praktik Terbaiknya

16 Oktober 2026
Ragam

Suket, Sutar, dan Nasib Baju Kebesaran Alumni Luar Negeri

16 Oktober 2026
Ragam

STAI Yogyakarta ‘Digembleng’ Kopertais III: Cerita Dua Dosen Serdos Saat Kerja Kerasnya Diuji Mahasiswa dan Kolega

16 Oktober 2026
Prof.Dr.Lilis Sulastri, MM.,
Ekonomi

IN THIS ECONOMY.. APA YANG SEBENARNYA KITA KEJAR?

16 Oktober 2026
Ragam

Putra Asli Kota Wali Demak Alim Setiawan Slamet Jadi Wakil Menteri Pertanian

16 Oktober 2026
Ragam

Bupati Sukabumi Buka Aksioma Jenjang MTS

16 Oktober 2026
Next Post

FWK Kritik Penanganan Karhutla Kurang Serius: Kalsel Merasa jadi Anak Tiri, Masyarakat Mulai Frustasi

JDIH DPRD Kota Cimahi

LPKL

BEDA Itu pilihan

SERIKAT MEDIA SIBER INDONESIA

MFC - Bedanews.com © 2021

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result

MFC - Bedanews.com © 2021