• DISCLAIMER
  • PEDOMAN MEDIA CYBER
  • TENTANG KAMI
  • REDAKSI
  • Contact Us
Senin, Oktober 26, 2026
  • Login
Bedanews
Advertisement
  • TNI-POLRI
  • Headline
  • Ragam
  • News
  • Politik
  • Edukasi
  • Hukum
  • Ekonomi
  • Karya
  • Profil
No Result
View All Result
  • TNI-POLRI
  • Headline
  • Ragam
  • News
  • Politik
  • Edukasi
  • Hukum
  • Ekonomi
  • Karya
  • Profil
No Result
View All Result
Bedanews
No Result
View All Result

Home ยป Laut Pasang, Janji Manis, dan Cara (Kita) Mencintai Demak

Laut Pasang, Janji Manis, dan Cara (Kita) Mencintai Demak

angel angel by angel angel
12 Oktober 2026
in Ragam
0
0
SHARES
1
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

 

Oleh: Muhammad Rofik Mualimin

YOGYAKARTA || Bedanews.com – Setiap kali saya pulang ke Demak, aroma garam tidak lagi datang dari angin pantai yang segar, melainkan dari genangan air keruh yang mengepung halaman rumah warga. Di Sayung, Sriwulan, hingga daerah pesisir lainnya, jalanan beton yang baru setahun ditinggikan kembali ditelan rob. Anak-anak berangkat sekolah melintasi genangan air setinggi lutut, sementara para orang tua menatap lantai rumah yang kian hari kian tenggelam.

Ada pameo menggelitik di kalangan anak muda pesisir hari ini: “Cara paling cepat punya rumah dua lantai di Demak adalah tinggal diam dan biarkan air laut meninggikan lantai pertama Anda.” Candaan pahit ini lahir bukan karena warga kehilangan rasa humor, melainkan bentuk pertahanan diri di tengah janji-janji manis pembangunan yang kerap kali tidak pro-warga.

BeritaTerkait

IN MEMORIAM BAPAK FATHAN SUBCHI Tokoh Demak, Ketua Umum PDBN, Mantan Anggota DPR RI Dua Periode dan Anggota VI BPK RI

26 Oktober 2026

Sambut Hari Suci Purnama, Umat Hindu Se-Jabar Gelar Do’a Bersama

26 Oktober 2026

Mencintai Demak hari ini sering kali disalahartikan sebagai dorongan untuk selalu memuji program pemerintah. Jika kita mengkritik, kita dicap tidak bangga pada daerah sendiri. Padahal, sejarah membuktikan sebaliknya. Dalam khazanah pemikiran Islam klasik, Ibn Taimiyyah dalam Siyฤsah al-Syarโ€™iyyah (Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, Beirut, 1988, hlm. 45) mengingatkan bahwa kepemimpinan adalah amanah untuk menjaga kelangsungan hidup publik, bukan sekadar memajukan proyek fisik. Mengkritisi kebijakan yang ugal-ugalan bukanlah bentuk kebencian, melainkan manifestasi cinta paling jujur.

Secara ilmiah, musibah di pesisir Demak bukan sekadar takdir alam semata, melainkan buah dari anthropogenic climate change dan kelalaian tata ruang. Anthony Giddens dalam bukunya The Politics of Climate Change (Polity Press, Cambridge, 2009, hlm. 112) menekankan pentingnya convergent politics, yaitu kebijakan pemerintah yang menyatu langsung dengan kebutuhan riil warga terdampak, bukan sekadar memindahkan masalah. Pembangunan infrastruktur penahan rob sering kali terlambat dan sporadis, sementara izin ekspansi industri skala besar di kawasan rawan resapan air terus meluncur tanpa kendala.

Sejarah kelam tata kelola lingkungan ini sebenarnya bukan cerita baru. Sejak zaman kolonial Belanda, eksploitasi alam pesisir Jawa kerap mengabaikan kearifan lokal. Herman Warner Muntinghe dalam catatan arsip Rapport over de Landelijk Stelsel (Algemeene Landsdrukkerij, Batavia, 1817, hlm. 84) sudah menggarisbawahi bahwa kegagalan tata kelola tanah di Jawa selalu berakar dari kebijakan pusat yang berjarak dari realitas kehidupan petani dan nelayan di akar rumput.

Ketika tanggul bobol dan rob menerjang, warga kecil yang paling menanggung akibatnyaโ€”kehilangan mata pencaharian, rumah rusak, hingga sanak saudara yang terserang penyakit. Sosiologis Jerman, Ulrich Beck, dalam Risikogesellschaft: Auf dem Weg in eine andere Moderne (Suhrkamp Verlag, Frankfurt am Main, 1986, hlm. 36) menegaskan bahwa risiko lingkungan tidak pernah terbagi secara adil; kelompok masyarakat bawah selalu menjadi pihak yang paling rentan tertimpa dampaknya.

Mencintai Demak berarti berani bersuara ketika ruang hidup warga terancam. Kita ingin melihat Demak maju, namun kemajuan itu harus diukur dari seberapa kering lantai rumah warga Sayung, seberapa tenang nelayan melaut, dan seberapa sejahtera petani memanen hasilnya. Mengkritisi kebijakan yang membelakangi warga akar rumput adalah cara kita menjaga Demak agar tidak tenggelamโ€”baik oleh air laut, maupun oleh kepalsuan janji-janji politik.***

Penulisan adalah:
– Alumni Universitas Al-Azhar Kairo Mesir,
– Kandidat Doktor di Pascasarjana S3 UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Previous Post

Tim Kapuas Borong Juara ORADO Open PWI Kapuas Cup 2026

Next Post

Kodim 1714/PJ dan Polri Kawal Wakil Gubernur Papua Tengah Tinjau Pembangunan Sekolah dan Serahkan Bantuan

Related Posts

Ragam

IN MEMORIAM BAPAK FATHAN SUBCHI Tokoh Demak, Ketua Umum PDBN, Mantan Anggota DPR RI Dua Periode dan Anggota VI BPK RI

26 Oktober 2026
Ragam

Sambut Hari Suci Purnama, Umat Hindu Se-Jabar Gelar Do’a Bersama

26 Oktober 2026
Ragam

Jejak Kebaikan dan Langkah Sunyi Seorang Sahabat: In Memorian Fathan Subchi (I)

26 Oktober 2026
Ragam

Anggota BPK HM. Fathan Subchi Berpulang, Membawa Duka Mendalam bagi Keluarga dan Sahabat, Serta Masyarakat

25 Oktober 2026
Ragam

Siapa Lagi Terancam OTT, Eisti, Agustin atau Ngesti

25 Oktober 2026
Ragam

Kepala Daerah di Jawa Tengah, Akankah KPK Terus Melakukan OTT

25 Oktober 2026
Next Post

Kodim 1714/PJ dan Polri Kawal Wakil Gubernur Papua Tengah Tinjau Pembangunan Sekolah dan Serahkan Bantuan

JDIH DPRD Kota Cimahi

LPKL

BEDA Itu pilihan

SERIKAT MEDIA SIBER INDONESIA

MFC - Bedanews.com ยฉ 2021

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result

MFC - Bedanews.com ยฉ 2021