Oleh: Dr. (C.) K.H.M. Rofik Mualimin, Lc., M.Pd.I
YOGYAKARTA || Bedanews.com – Ketika sebuah rezim mulai terganggu oleh suara-suara sumbang dari bilik redaksi dan lembaga swadaya masyarakat, metafora lama sering kali digali kembali dari kuburan sejarah. Istilah “Londo Ireng”—sebutan peyoratif zaman kolonial bagi serdadu pribumi atau tentara marsekal yang mengabdi pada kompeni Belanda—mendadak meluncur dari mimbar kekuasaan. Pers, pengamat, dan LSM yang kritis dituduh bertindak bak antek asing yang mendesain keruntuhan bangsa.
Narasi ini sepintas terdengar patriotik, namun dalam kacamata analisis politik kritis, ia menyimpan cacat logika yang serius.
Istilah “Londo Ireng” secara historis memang merekam jejak kelam militerisme kolonial. Sebagaimana dicatat oleh Robert Cribb dalam Historical Dictionary of Indonesia (2000: 158), sebutan tersebut awalnya merujuk pada serdadu perekrutan KNIL (termasuk pasukan asal Afrika dan lokal) yang dipakai Kerajaan Belanda untuk menundukkan perlawanan rakyat nusantara. Namun, melempar label historis ini ke dada jurnalis dan peneliti modern yang bekerja di bawah naungan konstitusi adalah sebuah kekeliruan anakronistis.













