BANDUNG, Bedanews.com
– Maraknya aksi begal di berbagai wilayah Jawa Barat dalam beberapa waktu terakhir tidak bisa lagi dipandang sebagai persoalan kriminalitas biasa. “Begal bukan sekadar kriminalitas, tetapi cermin melemahnya pendidikan karakter, kontrol sosial, dan kolaborasi seluruh elemen masyarakat,” tegas Prof. Dr. H. A. Rusdiana, MM, Guru Besar Manajemen Pendidikan UIN Sunan Gunung Djati Bandung dalam Wawancara Eksklusif, Jumat 24/7/2026.
Menurutnya, kejahatan jalanan saat ini sudah menjadi persoalan multidimensional. Selain mengancam keselamatan jiwa dan harta, begal juga menurunkan rasa aman, mengganggu aktivitas ekonomi, serta memengaruhi kepercayaan publik terhadap stabilitas daerah.
“Karena itu, persoalan begal tidak cukup dipahami sebagai pelanggaran hukum semata, melainkan sebagai indikator melemahnya ketahanan sosial, pendidikan karakter, dan kontrol masyarakat,” jelasnya.
Akar Masalah: Ketika Kontrol Sosial Melemah
Secara akademik, Prof. Rusdiana merujuk pada Teori Kontrol Sosial Travis Hirschi 1969, Teori Disorganisasi Sosial Shaw & McKay, dan Teori Ekologi Sosial Bronfenbrenner. Ketiga teori itu menjelaskan bahwa kriminalitas meningkat ketika keluarga, sekolah, lingkungan, dan komunitas gagal menjalankan fungsi pembinaan secara terpadu.













