Oleh: Mayor Jenderal TNI (P) Fulad
JAKARTA || Bedanews.com –
*Pendahuluan*
Ketika harga beras di kota turun, kita sering menyambutnya sebagai kabar baik. Inflasi terkendali, pasar terlihat tenang, dan pemerintah memperoleh ruang bernapas yang lebih lega. Namun pada saat yang sama, di banyak sudut pedesaan Indonesia, petani justru memandang hasil panennya dengan kegelisahan. Gabah yang mereka hasilkan dengan kerja keras berbulan-bulan tidak selalu memperoleh harga yang layak. Biaya produksi terus meningkat, sementara keuntungan semakin menipis.
Di tengah situasi itu, beras impor datang mengisi pasar domestik. Apa yang tampak sebagai solusi cepat bagi stabilitas harga sering kali menjadi pukulan bagi keberlanjutan produksi dalam negeri. Kita menikmati kenyamanan jangka pendek, tetapi tanpa sadar sedang menggerus fondasi yang selama ini menopang ketahanan pangan bangsa.













