Tulisan ini tidak bermaksud menolak impor secara mutlak. Dalam kondisi tertentu, impor dapat menjadi instrumen kebijakan yang sah dan diperlukan. Namun persoalan muncul ketika impor berubah dari pilihan darurat menjadi kebiasaan. Ketika setiap gejolak harga dijawab dengan membuka keran impor, sementara persoalan mendasar di sektor pertanian dibiarkan berulang dari tahun ke tahun.
Di situlah sesungguhnya kita sedang menempuh jalan sunyi menuju kematian sawah Indonesia.
*Benturan Dua Logika yang Tak Kunjung Bersatu*
Di balik setiap kebijakan pangan terdapat dua kepentingan yang tidak selalu berjalan seiring.
Di satu sisi, pemerintah berkewajiban menjaga stabilitas harga, mengendalikan inflasi, dan memastikan kebutuhan masyarakat terpenuhi. Dalam kerangka ekonomi makro, impor sering dianggap sebagai instrumen tercepat untuk meredam gejolak pasar. Ketika stok diperkirakan menipis atau harga mulai naik, impor menjadi pilihan yang dianggap paling praktis.













