Bandung, Bedanews.com
Prof. Lilis Sulastri: Lulusan SAA harus jadi kurator peradaban, bukan konsumen hoaks. Integritas, inovasi, kolaborasi jadi bekal utama
– Era disrupsi digital menuntut peran baru bagi ilmuwan agama. Bukan sekadar menghafal teks, tapi menjadi jembatan dialog di tengah retakan zaman. Pesan itu disampaikan Prof. Dr. Hj. Lilis Sulastri, S.Ag., M.M., CPHRM., CHRA dalam Orasi Ilmiah Opening Speaker Voice of Religious Studies VORS Milad ke-58 Prodi Studi Agama-Agama Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Rabu 24 Juni 2026 di Aula Abdjan Soelaeman.
Orasi berjudul “Manajemen Keberagamaan: Tiga Prinsip Menghadapi Era Disrupsi” itu dihadiri Dekan, dosen, alumni, dan ratusan mahasiswa SAA lintas angkatan.
Agama di Ujung Tanduk Disrupsi













