Garut, BEDAnews
Berdasarkan standar nasional pendidikan tahun 2014, Departemen Agama (Depag) Kabupaten Garut mempunyai tugas yang sangat berat bagi madrasah. Berbeda dengan dunia pendidikan di lingkungan diknas yang mendapat dukungan penuh dari departemennya, Madrasah memiliki segala keterbatasan karena 975 Madrasah dikelola oleh masyarakat, dan sisanya adalah negeri.
Hal itu menjadi kekhawatiran, karena dengan diberlakukannya standar nasional pendidikan, paling tidak ada persoalan sarana, prasarana, kurikulum dan top leader di Madrasah harus ditingkatkan.
Demikian diungkapkan Kasi. Mapenda Kantor Depag Kabupaten Garut Drs, H. Cece Hidayat, M.Ag., saat ditemui di dalam Rapat Koordinasi Pendidikan 2012 yang digelar di Hotel Sabda Alam, Cipanas, Selasa, (24/04).
Tujuan dari pertemuan ini sendiri adalah untuk menyamakan persepsi para kepala Madrasah, agar program Mapenda Depag sama dengan program para kepala Madrasah. “Kedepannya akan semakin banyak kegiatan yang terkait dengan peningkatan mutu madrasah, kita akan mengundang para nara sumber yang berkompeten, kita akan mendengar keluhan keluhan, saran, yang kita akan sama sama cari solusinya, walaupun waktunya dirasa sedikit,” ujar Cece.
Pada pertemuan tersebut, dibahas pengembangan kurikulum, dan untuk kepentingan peningkatan mutu ini, Mapenda meminta kepada para kepala Madrasah untuk meningkatkan RAPBM sebesar 5%. “Kalau tidak mencapai 55, maka RAPBM tidak akan di ACC,” ujar Cece.
Menurut Cece, jumlah Madrasah yang menjamur di Kabupaten Garut tidak disertai dengan kualitas yang memadai, sehingga walaupun banyak namun kualitasnya jauh dengan sekolah umum swasta dan pemerintah.
“Kita juga akan upayakan sistem pendidikan di Madrasah itu Linear, lulusan Raudatul Atfhal (RA) diusahakan masuk ke Madrasah Ibtidaiyah (MI), kemudian ke Madrasah Tsanawiyah (Mts) dan ke Madrasah Aliyah (MA). Tidak seperti sekarang, banyak yang lulusan MI tapi kemudian dicaplok oleh SMP negeri atau swasta," ungkapnya. (Yuyus)











