Oleh: Mayjen TNI (P) Fulad: (Mantan Penasihat Militer RI untuk PBB 2017 – 2019)
JAKARTA || Bedanews.com –
*PENDAHULUAN*
Hari ini, 5 Oktober 2026, Tentara Nasional Indonesia genap berusia 81 tahun.
Delapan puluh satu tahun adalah usia yang panjang bagi sebuah institusi. TNI telah melewati revolusi, perang mempertahankan kemerdekaan, berbagai pergolakan keamanan, operasi dalam negeri, penugasan perdamaian PBB, hingga perubahan lingkungan strategis yang sangat cepat.
Karena itu, HUT TNI seharusnya bukan hanya menjadi momentum untuk menunjukkan kekuatan di hadapan rakyat.
HUT TNI juga harus menjadi saat yang tepat untuk bercermin.
Kita boleh bangga dengan seragam, parade, alutsista, pangkat dan jabatan. Tetapi seorang prajurit senior memahami satu hal: perang tidak pernah dimenangkan oleh seragam. Perang dimenangkan oleh manusia yang berkualitas, kepemimpinan yang tepat, organisasi yang solid, kesiapan tempur yang nyata, dan kemampuan mengambil keputusan ketika keadaan menjadi paling sulit.
Pertanyaan yang harus kita berani ajukan pada usia 81 tahun adalah pertanyaan yang sederhana, tetapi tidak mudah dijawab: Apakah TNI hari ini benar-benar siap menghadapi perang yang sesungguhnya?
Bukan siap untuk upacara.
Bukan siap untuk parade.
Bukan sekadar siap di atas kertas.
Tetapi siap menghadapi musuh yang memiliki teknologi, intelijen, drone, rudal presisi, perang elektronik, kemampuan siber, satelit, kecerdasan buatan, dan kemampuan operasi multidomain.
Pertanyaan ini mungkin tidak nyaman.
Tetapi justru pertanyaan yang tidak nyaman itulah yang harus berani diajukan oleh institusi yang ingin menjadi semakin kuat.
*PERANG TELAH BERUBAH, TETAPI APAKAH CARA KITA MENYIAPKANNYA SUDAH BERUBAH?*
Perang masa kini tidak lagi hanya ditentukan oleh jumlah pasukan dan banyaknya senjata.
Pertempuran dapat dimulai dari ruang siber, dilanjutkan dengan gangguan komunikasi, serangan terhadap jaringan listrik, perang informasi, gangguan navigasi, serangan drone, peperangan elektronik, lalu berkembang menjadi serangan kinetik.
Darat, laut, udara, siber, antariksa, informasi dan spektrum elektromagnetik semakin terhubung.
Inilah perang multidomain.
Dalam perang seperti ini, keterlambatan beberapa menit dapat menentukan hidup dan mati.
Karena itu, TNI tidak cukup hanya memiliki alutsista modern.
TNI membutuhkan manusia yang mampu mengoperasikan, mengintegrasikan, dan mengambil keputusan berdasarkan informasi yang dihasilkan oleh teknologi tersebut.
Di sinilah persoalan mendasar kita berada.
Modernisasi alutsista tanpa modernisasi manusia hanya menghasilkan tentara yang memiliki senjata modern, tetapi belum tentu memiliki kemampuan perang modern.
*MERITOKRASI: JANGAN SAMPAI JABATAN MENGALAHKAN KEMAMPUAN*
TNI dibangun dengan tradisi keprajuritan yang menempatkan kemampuan, keberanian, loyalitas, disiplin dan pengabdian sebagai ukuran utama.
Karena itu, meritokrasi bukan barang baru bagi TNI.
Tetapi justru karena meritokrasi adalah fondasi profesionalisme militer, ia harus terus dijaga.
Pertanyaannya: Apakah promosi dan penempatan jabatan di semua tingkatan sudah benar-benar mencerminkan kompetensi dan rekam jejak?
Ini pertanyaan yang harus dijawab dengan jujur.
Seorang komandan tidak cukup hanya loyal.
Ia harus kompeten.
Tidak cukup hanya memiliki karier yang panjang.
Ia harus memiliki kapasitas untuk memimpin.
Tidak cukup hanya memiliki pendidikan formal.
Ia harus mampu mengambil keputusan dalam tekanan.
Tidak cukup hanya dikenal sebagai orang yang baik.
Ia harus memiliki keberanian moral untuk mengatakan benar ketika yang lain mengatakan salah.
Dalam organisasi militer, kesalahan memilih seorang komandan tidak sama dengan kesalahan memilih seorang pejabat biasa.
Kesalahan memilih komandan dapat dibayar dengan nyawa prajurit dan keselamatan negara.
Karena itu, promosi harus semakin objektif.
Rekam jejak operasi.
Prestasi kepemimpinan.
Kemampuan strategis.
Kompetensi teknologi.
Integritas.
Kemampuan bekerja lintas matra.
Kemampuan memahami lingkungan geopolitik.
Semuanya harus menjadi bagian dari ukuran.
Jangan sampai proximity mengalahkan capability.
Jangan sampai kedekatan mengalahkan prestasi.
Dan jangan sampai kepentingan karier individu lebih kuat daripada kepentingan organisasi.
TNI tidak membutuhkan komandan yang pandai menjaga karier. TNI membutuhkan komandan yang berani menjaga negara.
*SDM: ALUTSISTA BOLEH MODERN, MANUSIA TIDAK BOLEH TERTINGGAL*
Persoalan kedua adalah sumber daya manusia.
Ini mungkin merupakan pekerjaan rumah paling besar.
Kita dapat membeli pesawat tempur terbaru.
Kita dapat membeli kapal perang modern.
Kita dapat memiliki drone, radar, rudal, satelit dan sistem komunikasi canggih.
Tetapi semua itu kembali kepada manusia.
Siapa yang mengoperasikan?
Siapa yang memelihara?
Siapa yang membaca datanya?
Siapa yang mengambil keputusan?
Dan siapa yang bertanggung jawab apabila sistem gagal?
Di sinilah kita harus berani mengakui bahwa kualitas SDM belum boleh dianggap selesai.
Prajurit masa depan harus memiliki kemampuan yang jauh lebih luas.
Perwira harus memahami teknologi sekaligus strategi.
Prajurit harus memahami sistem sekaligus medan.
Komandan harus memahami perang konvensional sekaligus perang informasi.
Kita membutuhkan prajurit yang memahami AI, siber, data, drone, robotika, satelit, peperangan elektronik dan sistem senjata modern.
Tetapi di atas semua itu, kita membutuhkan prajurit yang memiliki karakter.
Sebab kecerdasan tanpa integritas dapat menjadi ancaman.
Teknologi tanpa disiplin dapat menjadi bencana.
Dan kekuasaan tanpa moral dapat menjadi bahaya bagi negara.
Karena itu, reformasi SDM TNI tidak boleh hanya berbicara tentang pendidikan teknologi.
Ia harus menyentuh kualitas berpikir, karakter, kepemimpinan, integritas dan keberanian moral.
*REKRUTMEN: JANGAN HANYA MENCARI JUMLAH, CARI MUTU*
Kita juga harus berani mengevaluasi sistem rekrutmen.
TNI membutuhkan prajurit dalam jumlah yang memadai.
Tetapi perang masa depan tidak hanya membutuhkan jumlah.
Ia membutuhkan kualitas.
Jangan sampai kebutuhan kuantitatif justru membuat standar kualitatif menjadi longgar.
Rekrutmen harus menjadi pintu pertama untuk mendapatkan manusia terbaik yang bersedia mengabdikan hidupnya kepada negara.
Karena itu, selain kemampuan fisik, kita harus memberi perhatian lebih besar kepada: kecerdasan, karakter, kemampuan teknologi, kemampuan belajar, kemampuan adaptasi, kepemimpinan, dan integritas.
Anak muda yang memiliki kemampuan coding, kecerdasan buatan, matematika, elektronika, robotika, komunikasi atau analisis data mungkin tidak selalu memiliki profil prajurit konvensional yang selama ini kita bayangkan.
Tetapi justru merekalah yang mungkin dibutuhkan untuk memenangkan perang masa depan.
Karena itu, sistem rekrutmen harus mampu menemukan talenta-talenta tersebut.
TNI harus membuka ruang lebih besar bagi talent-based recruitment.
Bukan berarti standar fisik dan keprajuritan diturunkan.
Sebaliknya, standar harus dibuat semakin cerdas.
Kita membutuhkan prajurit yang kuat secara fisik, tajam secara intelektual, matang secara emosional dan kokoh secara moral.
*KESIAPAN TEMPUR: JANGAN PUAS DENGAN KESIAPAN ADMINISTRATIF*
Persoalan berikutnya jauh lebih fundamental: kesiapan tempur.
Inilah ukuran yang sesungguhnya.
Satuan dinyatakan siap.
Alutsista dinyatakan tersedia.
Personel dinyatakan lengkap.
Latihan telah dilaksanakan.
Tetapi apakah itu otomatis berarti siap perang?
Belum tentu.
Kesiapan tempur harus diuji dalam kondisi yang menyerupai keadaan sebenarnya.
Bagaimana jika komunikasi terputus?
Bagaimana jika GPS terganggu?
Bagaimana jika jaringan komando diserang?
Bagaimana jika drone musuh datang secara berkelompok?
Bagaimana jika pangkalan udara terkena serangan?
Bagaimana jika kapal kehilangan komunikasi?
Bagaimana jika sistem siber lumpuh?
Bagaimana jika informasi yang diterima komandan ternyata palsu?
Dan yang paling penting: bagaimana jika komandan harus mengambil keputusan dalam hitungan menit dengan informasi yang tidak lengkap?
Di situlah kesiapan tempur yang sesungguhnya diuji.
Karena itu, latihan tidak boleh hanya menguji apakah pasukan dapat menjalankan skenario yang sudah direncanakan.
Latihan harus menguji kemampuan menghadapi kejutan.
Musuh tidak akan memberikan skenario kepada kita.
Musuh akan berusaha menciptakan kekacauan.
Maka TNI harus berlatih dalam kekacauan.
*DARI TIGA MATRA MENUJU KEMAMPUAN MULTIDOMAIN*
Kita juga harus meninggalkan cara berpikir sektoral.
Ancaman tidak mengenal batas organisasi.
Sebuah serangan dapat dimulai dari laut, didukung satelit, diarahkan melalui jaringan siber, dilaksanakan oleh drone, dan diperkuat operasi informasi.
Karena itu, TNI harus semakin kuat dalam interoperabilitas.
AD tidak dapat hanya berpikir tentang darat.
AL tidak dapat hanya berpikir tentang laut.
AU tidak dapat hanya berpikir tentang udara.
Ketiganya harus melihat satu medan operasi sebagai satu kesatuan strategis.
Lebih jauh lagi, kemampuan siber, informasi, antariksa dan peperangan elektronik harus terintegrasi dengan operasi konvensional.
Inilah yang saya maksud dengan TNI multidomain.
Bukan sekadar memiliki tujuh jenis kemampuan.
Tetapi mampu menggunakan seluruh kemampuan itu sebagai satu kekuatan strategis.
*JANGAN TAKUT MENGKRITIK TNI*
Kritik terhadap TNI tidak boleh otomatis dianggap sebagai upaya melemahkan TNI.
Justru sebaliknya.
Institusi yang kuat adalah institusi yang berani bercermin.
Saya mengatakan ini bukan dari ruang kelas.
Saya mengatakannya dari pengalaman sebagai prajurit yang pernah melihat operasi dalam negeri, memahami bagaimana keputusan komando bekerja di lapangan, dan pernah menjalankan tugas diplomasi militer dalam lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Di lapangan, kita belajar bahwa satu keputusan yang terlambat dapat mengubah keadaan.
Dalam diplomasi militer, kita belajar bahwa kemampuan negara tidak hanya diukur dari jumlah senjatanya, tetapi juga dari kualitas manusianya.
Dan dari pengalaman itu saya sampai pada satu kesimpulan sederhana: TNI tidak boleh takut mengoreksi dirinya sendiri.
Kritik internal adalah vitamin bagi profesionalisme.
Yang berbahaya justru ketika organisasi terlalu nyaman mendengar pujian.
*DI ATAS ADA ALLAH, DI BAWAH ADA TANAH*
Di tengah semua kritik itu, saya tetap percaya bahwa TNI memiliki kekuatan yang tidak boleh hilang: jati diri.
Saya selalu memegang falsafah: โDi atas ada Allah, di bawah ada tanah.โ
Di atas ada Allah berarti seorang prajurit harus menyadari bahwa kekuasaan, jabatan dan kemampuan adalah amanah.
Teknologi boleh semakin tinggi.
Senjata boleh semakin canggih.
Tetapi hati seorang prajurit harus tetap rendah.
Sedangkan di bawah ada tanah berarti seorang prajurit tidak boleh kehilangan hubungan dengan rakyat.
Tanah air adalah tempat kita berpijak.
Rakyat adalah alasan mengapa TNI ada.
Karena itu, reformasi TNI tidak boleh hanya menghasilkan tentara yang semakin canggih.
Ia harus menghasilkan tentara yang semakin profesional, semakin berintegritas, semakin dekat dengan rakyat dan semakin siap mempertaruhkan dirinya untuk negara.
*PENUTUP*
TNI berusia 81 tahun.
Ini bukan usia untuk sekadar merayakan keberhasilan.
Ini adalah usia untuk melakukan evaluasi dengan kepala dingin.
Kita harus berani bertanya:
Apakah meritokrasi sudah benar-benar berjalan?
Apakah SDM kita sudah mampu menghadapi perang multidomain?
Apakah sistem rekrutmen sudah menghasilkan prajurit yang kita butuhkan untuk 20 tahun mendatang?
Apakah latihan kita benar-benar menguji perang atau hanya menguji kemampuan melaksanakan latihan?
Apakah seluruh alutsista kita sudah terintegrasi?
Apakah kesiapan tempur kita benar-benar teruji dalam menghadapi kejutan?
Pertanyaan-pertanyaan itu mungkin tidak nyaman.
Tetapi negara membutuhkan jawaban yang jujur.
Kita tidak membutuhkan TNI yang terlihat kuat.
Kita membutuhkan TNI yang benar-benar kuat.
Kita tidak membutuhkan TNI yang sekadar modern.
Kita membutuhkan TNI yang mampu menggunakan modernitas untuk memenangkan pertempuran.
Kita tidak membutuhkan komandan yang sekadar memiliki jabatan.
Kita membutuhkan komandan yang layak memegang komando.
Dan kita tidak membutuhkan prajurit yang hanya siap ketika keadaan normal.
Kita membutuhkan prajurit yang tetap mampu berdiri ketika negara berada dalam keadaan paling tidak normal.
Perang Dunia III mungkin tidak datang dengan sirine.
Tetapi perubahan perang sudah datang.
Ia datang melalui drone, AI, siber, satelit, perang informasi, peperangan elektronik dan konvergensi multidomain.
Karena itu, 81 tahun TNI harus menjadi momentum untuk berhenti sejenak, bercermin, lalu memperbaiki diri.
Bukan karena TNI lemah.
Tetapi karena negara tidak boleh mengambil risiko dengan menganggap dirinya sudah cukup kuat.
Kekuatan sejati lahir dari keberanian untuk mengakui kekurangan, memperbaikinya dengan disiplin, dan menyiapkan generasi berikutnya dengan standar yang lebih tinggi.
Di atas ada Allah.
Di bawah ada tanah.
Di tengahnya ada prajurit yang mengabdi.
Selama tiga hal itu tetap menjadi pegangan, TNI akan selalu memiliki alasan untuk menjadi lebih profesional, lebih modern, lebih berintegritas, dan lebih siap menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Dirgahayu ke-81 TNI.
Jangan hanya rayakan usia.
Jadikan usia 81 tahun sebagai keberanian untuk bercermin. ***













