Demikianlah jika roda pemerintahan dijalankan dengan ideologi kapitalisme. Pandangan hidup ini melahirkan asas sekularisme, paham yang menjadikan urusan kehidupan dan aturan agama terpisah tersebut meniscayakan lahirnya penguasa yang abai terhadap rakyatnya. Dalam mengatasi pandemi juga demikian adanya. Tidak ada upaya yang serius dalam memisahkan orang sakit dengan orang sehat.
Dengan tidak meratanya tracing dan testing tidak akan diketahui mana orang yang sedang terinfeksi Covid-19. Bisa saja si empunya penyakit masih bebas berkeliaran dan menulari orang yang sehat.
Penambahan jumlah penderita Covid-19 tidak akan terus bertambah setiap harinya jika wabah ini ditangani dengan serius sedari awal. Zona oranye dan merah tidak akan meluas jika kebijakan yang diterapkan tepat dan akurat. Tetapi itulah gambaran hidup dalam sistem demokrasi sekuler. Penguasa hanya bertindak sebagai regulator, bukan sebagai peri’ayah (pengurus rakyat). Pertumbuhan ekonomi lebih diutamakan daripada nyawa rakyat. Sejatinya para kapital lah yang menjadi penguasa negeri ini yang hanya memikirkan untung rugi, bukan kemaslahatan rakyat.













