Cimahi, BEDAnews-
Latar belakang pendidikan yang pernah ditempuh seseorang belum tentu menjadikan pilihan hidup, Apalagi jika pendidikan yang pernah ditempuh itu bertentangan dengan pilihan hati. Hal itu yang dialami pegiat seni warga Jalan Cihanjuang Kelurahan cibabat Kecamatan Cimahi Utara ini.
Yayan Rusyana, pria enam bersauudara ini mengaku, pada 1986, usai lulus dari SMA Negeri 2 Cimahi dia melanjutkan studinya ke Fakultas Ushuludin Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bandung (UIN Bandung, red). “Saat itu saya menginginkan ada perubahan sikap setelah menjadi mahasiswa Ushuludin, namun ditengah perjalanan, apa yang saya idamkan itu tak terealisasi, sehingga saya memutuskan untuk keluar kuliah dan hijrah ke dunia seni khususnya seni rupa,” kata Yayan, saat berbincang dengan BEDAnews.com Senin (7/7).
Diapun beralasan, jika sekedar mendapatkan nilai yang bagus hal itu merupakan perkara yang mudah, dengan belajar yang giat dia yakin akan mendapatkan nilai yang tinggi, namun sebagai Mahasiswa Ushuludin saat itu, apa yang diinginkannya dari bangku kuliah agar bisa menjadikan perbaikan kualitas akhlak, nyatanya saat itu tak bisa diwujudkan, sehingga dia pun memutuskan untuk keluar kulia dan aktif berkesenian. “Sebelum terjun ke dunia seni rupa, awalnya saya ikut aktif di dunia teater dan pernah tergabung dalam Studi Teataer Bandung, namun hal itu tak berlangsung lama, saya pun memutuskan untuk meninggalkan Cimahi tanah kelahiran saya menuju Pulau Bali,” sebutnya.
Saat di Bali itulah Yayan bertemu dengan pelukis senior Bali Budi Sukarsah dan sempat belajar seni rupa. Bersama Budi itulah Yayan mencona hidup di kota metropolitan Jakarta dengan menggeluitu profesi sebagai pelukis potret. Saat itu, beberapa komandan di instansi militer sempat meminta jasanya untuk melukis potret, dari mulai Komandan Kodim, hingga salah satu petinggi TNI pernah dilukis potretnya. Bahkan sekitar tahun 2000 an Yayan pernah diminta untuk melukis potret Keluarga Sultan Brunei Darussalam Hasanal Bolkiah. “Dari 350 pelukis yang diseleksi di Bandung saat itu, saya salah satu dari dua pelukis ang lolos seleksi untuk melukis potret keluarga Sultan Brunei,” paparnya.
Dikatakan Yayan, jika boleh memilih antara teater dan lukisan, dunia seni rupa menjadi pilihannya, karena dengan melukis kita dapat m,engekpresikan apa yang menjadi gagasan secara personil, sementara jika di teater butuh adanya tim dan kerjasama antar sesame pemain. Aktivitas melukisnya yang dilakoni hingga saat ini akhirnya Yayan bersama komunitas pelukis di Cimahi melahirkan Forum Pelukis Cimahi (Forkis), dan Yayan tercatat sebagai salah seorang yang melahirkan berdirinya Forkis.Kini, selain menjadi pelukis, Yayan juga tercatat sebagai anggota Tjimahi Photografy Society (Tjipots). (bun)











