Berharap pada aturan dan sistem buatan manusia membawa kemaslahatan, ibarat pungguk merindukan bulan. Selamanya tidak akan terwujud keadilan. Manusia sebagai makhluk lemah memiliki keterbatasan mengelola dan mengatur urusan publik. Mudah dipengaruhi hawa nafsu dan deal-deal politik. Disetir hingga dikuasai serigala berbulu domba mungkin sekali terjadi. Pasalnya, akal manusia tidak didesain mampu mengurusi urusan manusia dengan segala kebutuhannya melalui aturan yang dibuatnya tapi harus aturan pencipta manusia, yakni Allah Azza wa Jalla.
Dalam Islam, kedaulatan ada di tangan syara’ (Allah dan Rasul-Nya). Maka, setiap aktivitas apapun, manusia wajib mengikatkan dirinya pada aturan yang dibawa Nabi Muhammad saw. yaitu syariat Islam. Aturan yang terkandung di dalamnya mampu merealisasikan hak-hak umat dalam seluruh aspek kehidupan. Dari mulai ibadah, akhlak, ekonomi, sosial, politik dan hukum semuanya diatur jelas. Termasuk di dalamnya aturan kepemilikan tanah.













