Ditegaskan Rosihon lagi, tujuan dari penerjemahan ini, agar Alquran sampai kepada segenap lapisan masyarakat di daerah. Menurutnya, Sunda dan Islam itu identik. Hampir bisa dipastikan setiap orang Sunda beragama Islam. Oleh karena itu, Alquran sebagai pedoman hidup muslim, maknanya harus sampai kepada mereka.
Menurutnya, Cara menyampaikan Alquran itu harus dengan bahasa yang komunikatif. Masyarakat Sunda, terutama yang di daerah akan lebih familian dengan bahasa Ibunya. Dengan demikian, makna dari Alquran akan lebih mengena. Dakwah bil qalam-nya lebih sampai pada sasaran.Bukan hanya itu,Penerjemahan Alquran ke dalam bahasa Sunda ini juga sebagai upaya untuk ikut melestarikan bahasa Sunda sebagai bahasa ibu.
“UNESCO telah menetapkan Hari Bahasa Ibu yang jatuh pada setiap 21 Februari sejak beberapa waktu lalu. Nah, UIN sebagai Kampus yang mengangkat Islam Nusantara Berbasis Kearifan Lokal dalam Bingkai ‘Wahyu Memandu Ilmu’ berkewajiban untuk turut ngamumulé bahasa daerah, yakni bahasa Sunda,” terangnya.











