Jakarta, Bedanews.com
Bahasa yang digunakan dalam terjemahan ini bukanlah basa Sunda yang baku dan usang (buhun), melainkan bahasa sehari-hari yang biasa digunakan dalam pergaulan. “Pokoknya basa Sunda untuk generasi zaman now. Semua kata yang digunakan merupakan bahasa pergaulan yang disesuaikan dengan kondisi sekarang. Salah satu contohnya, kami tidak menggunakan kata tanwande, ngandika, dll. yang dianggap sudah buhun
Hal itu, ditegaskan Rektor UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Prof. Dr. Rosihon Anwar, M.Ag.
Saat menerima penghargaan dari dari Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama, sebagai satuan kerja yang paling responsif dalam pelaksanaan program terjemah quran ke bahasa daerah. Penghargaan itu diberikan Ekspose Kemenag Kita, Pagelaran Drama Musikal “Ikhlas Beramal” yang berlangsung di Gedung Pusat Perfilman Usmar Ismail Hall, Jakarta Selatan, belum lama ini.













