Bandung, BEDAnews
Permasalahan air bersih di kawasan perkotaan sangat berkaitan dengan kesehatan lingkungan, pengelolaan sampah yang setiap hari diproduksi oleh masyarakat dan pembuangan air limbah yang langsung dialirkan pada saluran/sungai. Hal itulah yang menjadi penyebab pandangkalan saluran/sungai, tersumbatnya saluran/sungai hingga saat musim penghujan, selalu terjadi banjir dan menimbulkan penyakit.
Dalam rangka Penyelamatan Lingkungan tersebut, Pemerintah Kota Bandung diwakili oleh PDAM tirtawening dan ITB serta UNPAS, melakukan penjajakan kerjasama dengan UN-ESCAP (United Nation Economic And Social Commission For Asia And The Pasific) untuk membuat pilot project pengolahan air, yang akan dibangun di Kecamatan Bandung Kidul dan Kecamatan Coblong.
“Kita sedang dalam proses penjajakan,” ujar Wakil Walikota Bandung, Ayi Vivananda sesaat setelah melakukan pertemuan dengan UN_ESCAP di ruang tengah balaikota bandung, Jl. Wastukancana, Rabu (9/5).
Hari ini lanjut Ayi, tim dari UN_ESCAP akan meninjau dan menentukan dua lokasi yang dipilih yaitu daerah Mengger untuk membuat instalasi yang dapat menampung dan mengolah air hujan untuk memenuhi kebutuhan air minum, serta di daerah Tanggulan, Kelurahan Dago untuk penerapan teknologi pegolahan air bersih IPAL di dalam sungai yang dapat mengolah air yang mengalir di sungai Cikapundung agar lebih bersih.
Dalam kesempatan tersebut, Environment Dan Development Division UN_ESCAP, Eunyoung Lee menilai, melalui kekuatan politik dan komitmen Pemerintah Kota Bandung merupakan kunci keberhasilan proyek ini.
“Kami berkomitmen untuk membangun sistem air hujan yang terintegrasi dan sistem air limbah dalam konteks sungai restorasi, di tahun 2012-2013 dengan anggaran sebesar USD180.000. Komitmen potitical yang kuat dan kepemimpinan pemerintah, merupakan kunci,” papar Eunyoung Lee. (Bd)











