Oleh: Mayjen TNI (Purn) Fulad (Penasihat Militer RI untuk PBB 2017–2019)
JAKARTA || Bedanews.com – *Pendahuluan*
Ketika Presiden Donald Trump datang ke China untuk bertemu Presiden Xi Jinping, dunia sesungguhnya sedang menyaksikan sebuah kenyataan geopolitik baru: dominasi tunggal United States mulai menghadapi titik batasnya.
Kunjungan itu bukan sekadar agenda diplomasi bilateral biasa. Di balik protokol kenegaraan dan bahasa diplomasi yang penuh kehati-hatian, tersimpan negosiasi besar tentang masa depan tatanan dunia. Washington dan Beijing sama-sama memahami bahwa rivalitas keduanya telah memasuki fase yang jauh lebih serius dibanding perang dagang semata.
Selama lebih dari tiga dekade setelah runtuhnya Soviet Union dissolution, Amerika Serikat menikmati posisi sebagai satu-satunya kekuatan dominan dunia. AS menjadi pusat kekuatan militer, keuangan, teknologi dan keamanan internasional. Namun sejarah menunjukkan bahwa tidak ada hegemoni yang bertahan selamanya.













