Ketika karpet merah Istana terlalu sering digelar untuk para pemilik modal, ada harga mahal yang harus dibayar: melemahnya akuntabilitas dan tergusurnya suara rakyat biasa. Pembangunan memang butuh uang, tetapi demokrasi yang sehat jauh lebih butuh keadilan dan kesetaraan di hadapan hukum. Jangan sampai teh hangat di Istana justru meninggalkan rasa pahit bagi publik di luar benteng kekuasaan. ***
Penulis:
– Kandidat Doktor di Pascasarjana S3 UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta,
– Dosen STAI Yogyakarta,
– Pengasuh Pesantren Latifah Mubarokiyah Bantul,
– Ketua Yayasan Majma’ Bahrain Internasional,
– Ketua Harian Paguyuban Keluarga Pasir se-Dunia (PKPD),
– Penasihat Paguyuban Demak Bintoro Nusantara (PDBN).













