Masalah utamanya terletak pada birokrasi penyedia jasa yang tergesa-gesa. Sosiolog Jerman Max Weber dalam Wirtschaft und Gesellschaft (Tübingen: J.C.B. Mohr, 1922, hlm. 650) menegaskan bahwa efisiensi birokrasi membutuhkan kontrol kualitatif yang ketat dan spesifik. Ketika kuantitas mengejar target politik tanpa menyisakan ruang bagi kontrol kualitas (QC) yang ketat di lapangan, bahaya laten mikroba seperti staphylococcus aureus atau salmonella menyusup tanpa permisi. Pemerintah tampaknya lupa bahwa perut anak-anak bukan laboratorium uji coba untuk mengejar efisiensi anggaran semata.
Lebih jauh lagi, kegagalan ini mencerminkan apa yang disebut sarjana Belanda Jan Breman dalam Control of Land and Labour in Colonial Java (Dordrecht: Foris Publications, 1983, hlm. 45) sebagai ilusi tata kelola dari atas ke bawah (top-down governance) yang mengabaikan realitas kapasitas di tingkat paling bawah. Memaksa dapur-dapur lokal memasak ribuan porsi sekaligus tanpa pelatihan standar hazard yang benar adalah bentuk kecerobohan yang tak termaafkan.













