Oleh: Muhammad Rofik Mualimin
YOGYAKARTA || Bedanews.com – Pagi itu seharusnya menjadi pagi yang biasa: riuh tawa anak sekolah, bau kapur tulis, dan gemerincing sendok yang membentur ompreng stainless steel. Namun, ompreng-ompreng stainless yang digadang-gadang membawa gizi gratis itu justru berubah menjadi kurir petaka. Di beberapa daerah, anak-anak kita tidak mendadak cerdas; mereka mendadak mual, memegang perut yang melilit, lalu terkapar di ruang UGD yang overkapasitas. Keracunan massal ini bukan sekadar insiden teknis dapur—ini adalah alarm bahaya dari kegagalan sistemik.
Secara teoritis, memberi makan anak sekolah adalah investasi peradaban. Pakar ekonomi kelembagaan Mancur Olson dalam karya klasiknya, Logic of Collective Action: Public Goods and the Theory of Groups (Cambridge: Harvard University Press, 1965, hlm. 15), mengingatkan bahwa penyediaan barang publik yang besar selalu rentan terhadap kelalaian pengawasan karena koordinasi yang rumit dan tumpang-tindih kepentingan. Ketika sebuah program nasional dieksekusi dalam skala raksasa tanpa kesiapan rantai pasok lokal yang higienis, yang terjadi adalah bencana logistik. Kita melupakan prinsip dasar saniter yang dipesankan ulama klasik Ibnu Qayyim al-Jauziyyah dalam al-Thibb al-Nabawi (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1998, hlm. 210), bahwa makanan segar yang tercemar racun (al-tha’am al-matsmum) akibat pengolahan yang terburu-buru adalah perusak kesehatan paling cepat.













